wendycode

Materi dan Soal TKA Bahasa Indonesia SMA - Indikator : Kata Serapan dari Bahasa Daerah/Asing

0

MATERI TKA BAHASA INDONESIA LANJUT SMA
PAKET 1
BERDASARKAN INDIKATOR LATIHAN ONEDUMIND

A. KATA SERAPAN DARI BAHASA DAERAH DAN BAHASA ASING

  1. Pengertian kata serapan

Kata serapan adalah kata dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa lain, kemudian digunakan sebagai bagian dari kosakata bahasa Indonesia.

Sumber kata serapan dapat berasal dari:

  • bahasa daerah;
  • bahasa Sanskerta;
  • bahasa Arab;
  • bahasa Portugis;
  • bahasa Belanda;
  • bahasa Inggris;
  • bahasa asing lainnya.

Contoh:

  • bahasa Sanskerta: pustaka, bahasa, manusia
  • bahasa Arab: kitab, kabar, wajib
  • bahasa Portugis: meja, boneka, sepatu
  • bahasa Belanda: kantor, kualitas, polisi
  • bahasa Inggris: komputer, internet, aplikasi
  • bahasa Jawa: unggah, lincah, batik
  • bahasa Sunda: nyeri, angklung
  1. Penyesuaian kata serapan

Kata dari bahasa asing sering mengalami penyesuaian ejaan atau pelafalan.

Contoh:
activity → aktivitas
quality → kualitas
system → sistem
technology → teknologi
effective → efektif
communication → komunikasi

  1. Cara mengenali kata serapan

Perhatikan:

  • bentuk ejaan;
  • asal katanya;
  • perubahan huruf;
  • bidang penggunaannya;
  • apakah kata tersebut sudah menjadi kosakata bahasa Indonesia.

Dalam TKA, jangan hanya mengandalkan bentuk kata. Beberapa kata asing telah mengalami perubahan sehingga asal katanya tidak selalu terlihat dengan mudah.

  1. Kata serapan berdasarkan bidang

Bidang teknologi:

  • aplikasi
  • digital
  • internet
  • komputer

Bidang ekonomi:

  • inflasi
  • investasi
  • transaksi
  • produksi

Bidang pendidikan:

  • kurikulum
  • akademik
  • literasi
  • evaluasi

Bidang kesehatan:

  • diagnosis
  • terapi
  • vaksin
  • klinis

Prinsip TKA:
Jika pertanyaan meminta kata serapan, tentukan apakah kata tersebut berasal dari bahasa lain dan telah digunakan dalam bahasa Indonesia.

B. LATAR, KARAKTER, DAN FENOMENA BERDASARKAN KOSAKATA

Indikator Kuis 2 meminta peserta mengidentifikasi latar, karakter, dan fenomena berdasarkan kosakata yang digunakan dalam teks fiksi atau nonfiksi.

  1. Kosakata sebagai petunjuk

Pilihan kata dalam teks dapat memberikan petunjuk mengenai:

  • tempat;
  • waktu;
  • suasana;
  • karakter tokoh;
  • fenomena yang sedang dibicarakan.

Contoh:

“Para nelayan menarik jaring ketika matahari mulai muncul di ufuk timur.”

Petunjuk:

  • nelayan → lingkungan pesisir atau laut;
  • jaring → kegiatan menangkap ikan;
  • matahari mulai muncul → pagi hari.

Kesimpulan:
Latar kemungkinan berada di lingkungan pesisir pada pagi hari.

  1. Menentukan karakter berdasarkan kosakata

Contoh:

“Dengan teliti, ia memeriksa setiap angka sebelum menandatangani laporan tersebut.”

Kata “teliti” dan tindakan memeriksa setiap angka dapat menunjukkan karakter:

  • cermat;
  • teliti;
  • hati-hati.
  1. Menentukan fenomena

Fenomena adalah keadaan atau peristiwa yang terjadi dan dapat diamati.

Contoh:

“Jumlah kendaraan di jalan utama meningkat tajam pada pagi hari sehingga kemacetan terjadi hampir setiap hari.”

Fenomena:
kemacetan akibat meningkatnya jumlah kendaraan.

  1. Prinsip penting

Jangan menentukan makna hanya dari satu kata jika terdapat konteks yang lebih luas.

Kata “dingin”, misalnya, dapat berarti:

  • suhu rendah;
  • sikap tidak ramah;
  • suasana yang tidak akrab.

Makna harus ditentukan berdasarkan konteks.

C. KERANGKA DAN BAGAN BERDASARKAN BAGIAN PENTING DALAM TEKS

Kuis 3 menguji kemampuan menyusun kerangka atau bagan berdasarkan bagian-bagian penting dalam teks.

  1. Pengertian kerangka

Kerangka adalah susunan pokok-pokok informasi yang menunjukkan struktur suatu teks secara ringkas.

Kerangka bukan salinan seluruh isi teks.

  1. Cara membuat kerangka

Langkah:

  1. Tentukan topik.
  2. Temukan gagasan utama setiap bagian.
  3. Temukan informasi penting yang mendukung gagasan utama.
  4. Susun dari informasi umum ke informasi khusus.
  5. Hilangkan rincian yang tidak diperlukan.

Contoh:

Teks membahas:

  • pengertian sampah plastik;
  • dampak sampah plastik;
  • penyebab peningkatan sampah plastik;
  • cara mengurangi sampah plastik.

Kerangka:

Sampah Plastik
→ Pengertian
→ Penyebab
→ Dampak
→ Upaya pengurangan

  1. Kerangka harus mempertahankan hubungan antargagasan

Jika teks menjelaskan:
masalah → penyebab → dampak → solusi,

kerangka sebaiknya tidak diubah menjadi:
solusi → masalah → penyebab → dampak,

kecuali struktur teks memang demikian.

  1. Bagan

Bagan digunakan untuk menunjukkan hubungan informasi secara visual.

Contoh:

Pencemaran Air

Penyebab

Limbah rumah tangga dan industri

Dampak

Kualitas air menurun

Solusi

Pengolahan limbah

D. IDE POKOK, GAGASAN PENDUKUNG, TOKOH, PERISTIWA, LATAR, KONFLIK, DAN NILAI

Kuis 4 menguji kemampuan menyimpulkan berbagai unsur penting dalam teks.

  1. Ide pokok

Ide pokok adalah gagasan utama yang menjadi inti pembahasan paragraf.

Contoh:

“Penggunaan transportasi umum dapat mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan. Selain itu, transportasi umum dapat mengurangi kemacetan dan penggunaan bahan bakar.”

Ide pokok:
transportasi umum dapat mengurangi masalah akibat penggunaan kendaraan pribadi.

  1. Gagasan pendukung

Gagasan pendukung menjelaskan, memperkuat, memberikan contoh, atau membuktikan ide pokok.

Dalam contoh:

  • mengurangi kendaraan pribadi;
  • mengurangi kemacetan;
  • mengurangi penggunaan bahan bakar.
  1. Tokoh

Tokoh adalah pelaku dalam cerita.

  1. Peristiwa

Peristiwa adalah kejadian yang dialami tokoh.

  1. Latar

Latar meliputi:

  • tempat;
  • waktu;
  • suasana.
  1. Konflik

Konflik adalah pertentangan atau masalah yang dialami tokoh.

Konflik dapat berupa:

  • tokoh dengan dirinya sendiri;
  • tokoh dengan tokoh lain;
  • tokoh dengan lingkungan;
  • tokoh dengan keadaan sosial.
  1. Nilai

Nilai adalah sesuatu yang dianggap penting atau baik dan dapat diperoleh dari teks.

Contoh:

  • nilai moral;
  • nilai sosial;
  • nilai pendidikan;
  • nilai kemanusiaan;
  • nilai budaya.

E. HUBUNGAN MAKNA ANTARKALIMAT DAN ANTARPARAGRAF

Kuis 5 menguji kemampuan menjelaskan hubungan makna antarkalimat dan/atau antarparagraf.

  1. Hubungan sebab-akibat

Contoh:

“Hujan turun sepanjang malam. Akibatnya, beberapa wilayah mengalami banjir.”

Hubungan:
sebab → akibat.

  1. Hubungan pertentangan

Contoh:

“Banyak orang menganggap membaca buku sudah tidak penting. Namun, membaca tetap diperlukan untuk memperluas pengetahuan.”

Penanda:
namun.

  1. Hubungan penambahan

Contoh:

“Sekolah menyediakan perpustakaan. Selain itu, sekolah menyediakan ruang baca digital.”

  1. Hubungan perbandingan

Contoh:

“Berbeda dengan tahun sebelumnya, jumlah peserta tahun ini meningkat.”

  1. Hubungan penjelasan

Contoh:

“Pemerintah mengembangkan energi terbarukan. Artinya, sumber energi yang digunakan tidak hanya bergantung pada bahan bakar fosil.”

  1. Hubungan antarkalimat

Hubungan dapat ditandai oleh:

  • oleh karena itu;
  • namun;
  • selain itu;
  • sebaliknya;
  • dengan demikian;
  • akan tetapi;
  • sementara itu.
  1. Hubungan antarparagraf

Paragraf kedua dapat:

  • menjelaskan paragraf pertama;
  • melanjutkan pembahasan;
  • memberikan contoh;
  • menunjukkan akibat;
  • membandingkan;
  • menyanggah;
  • memberikan solusi.

Jangan menentukan hubungan hanya berdasarkan kata pertama paragraf. Perhatikan makna keseluruhan.

F. MEMPREDIKSI LANJUTAN ATAU AKHIR URAIAN/CERITA

Kuis 6 menguji kemampuan memprediksi lanjutan atau akhir uraian/cerita berdasarkan bagian tertentu dalam teks.

  1. Prediksi harus berdasarkan informasi yang sudah tersedia

Prediksi bukan menebak secara bebas.

Jika teks menunjukkan:

  • tokoh sedang mencari seseorang;
  • tokoh menemukan petunjuk;
  • petunjuk mengarah ke suatu tempat,

maka lanjutan yang logis adalah tokoh mengikuti petunjuk tersebut.

  1. Prediksi harus memperhatikan:
  • tokoh;
  • tujuan tokoh;
  • konflik;
  • sebab-akibat;
  • urutan peristiwa;
  • informasi sebelumnya.
  1. Dalam teks nonfiksi

Prediksi biasanya mengikuti pola pembahasan.

Contoh:

Paragraf pertama:
masalah sampah plastik.

Paragraf kedua:
dampak sampah plastik.

Prediksi paragraf berikutnya:
solusi atau upaya mengurangi sampah plastik.

  1. Dalam cerita

Perhatikan konflik.

Jika tokoh sedang menghadapi masalah yang belum selesai, akhir cerita yang tepat biasanya memberikan penyelesaian terhadap masalah tersebut.

  1. Hindari prediksi yang:
  • bertentangan dengan informasi sebelumnya;
  • memperkenalkan tokoh baru tanpa alasan;
  • menghasilkan kejadian tanpa sebab;
  • terlalu jauh dari topik;
  • hanya mungkin terjadi tetapi tidak didukung petunjuk.

G. RELEVANSI PERISTIWA DALAM TEKS DENGAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Kuis 7 menguji kemampuan menilai relevansi peristiwa dalam teks dengan kehidupan sehari-hari.

  1. Pengertian relevansi

Relevansi adalah hubungan antara suatu peristiwa, gagasan, atau masalah dengan keadaan lain yang memiliki keterkaitan.

Dalam TKA, relevansi berarti menilai apakah peristiwa dalam teks memiliki hubungan yang masuk akal dengan kehidupan nyata.

  1. Relevansi tidak berarti harus sama persis

Contoh:

Dalam cerita, seorang siswa mengalami kesulitan belajar karena tidak memiliki akses internet.

Kehidupan nyata:
siswa lain mungkin mengalami kesulitan belajar karena keterbatasan buku atau fasilitas sekolah.

Situasinya tidak sama persis, tetapi masalah utamanya memiliki relevansi.

  1. Cara menentukan relevansi

Tanyakan:

  • Apakah masalahnya sama atau mirip?
  • Apakah situasinya dapat terjadi dalam kehidupan nyata?
  • Apakah perilakunya memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat?
  • Apakah dampaknya dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari?
  • Apakah nilai atau persoalannya masih relevan?
  1. Relevansi bukan persetujuan

Sesuatu dapat relevan meskipun kita tidak menyetujui tindakan tokoh.

  1. Rumus

PERISTIWA DALAM TEKS
→ MASALAH/NILAI
→ KEHIDUPAN NYATA

H. KEAKURATAN, KESESUAIAN, KECUKUPAN, DAN KETEPATAN INFORMASI

Kuis 8 menguji penilaian terhadap keakuratan, kesesuaian, kecukupan, atau ketepatan informasi dalam teks.

  1. Keakuratan

Keakuratan berkaitan dengan benar atau tidaknya informasi.

Pertanyaan:
“Apakah informasi tersebut benar?”

Perhatikan:

  • data;
  • fakta;
  • angka;
  • sumber;
  • hubungan sebab-akibat;
  • informasi yang dapat diverifikasi.
  1. Kesesuaian

Kesesuaian berkaitan dengan hubungan informasi dengan topik atau persoalan.

Pertanyaan:
“Apakah informasi ini memang berkaitan dengan hal yang sedang dibahas?”

  1. Kecukupan

Kecukupan berkaitan dengan apakah informasi atau bukti yang tersedia sudah cukup untuk mendukung kesimpulan.

Contoh:

“Dua siswa berhasil memperoleh nilai tinggi setelah menggunakan metode belajar tertentu.”

Belum cukup untuk menyimpulkan:
“Metode tersebut pasti efektif bagi semua siswa.”

Data terlalu terbatas.

  1. Ketepatan

Ketepatan berkaitan dengan penggunaan informasi secara tepat sesuai konteks.

Contoh:
Kata “sebagian” tidak boleh diubah menjadi “semua” jika data hanya menunjukkan sebagian.

  1. Empat pertanyaan praktis

BENAR?
→ keakuratan

NYAMBUNG?
→ kesesuaian

CUKUP?
→ kecukupan

TEPAT?
→ ketepatan

  1. Jebakan umum

“Sebagian siswa” → “semua siswa”

“Dapat menyebabkan” → “pasti menyebabkan”

“Setelah itu” → “karena itu”

Urutan waktu tidak selalu menunjukkan hubungan sebab-akibat.

I. KETEPATAN DAN KESESUAIAN PENGGUNAAN BAHASA

Kuis 9 menguji kemampuan menilai ketepatan dan kesesuaian penggunaan bahasa dalam teks.

  1. Ketepatan bahasa

Ketepatan berarti penggunaan bahasa sesuai dengan kaidah dan makna yang hendak disampaikan.

Aspeknya:

  • pilihan kata;
  • ejaan;
  • imbuhan;
  • struktur kalimat;
  • konjungsi;
  • makna;
  • istilah;
  • keefektifan kalimat.
  1. Kesesuaian bahasa

Kesesuaian berkaitan dengan konteks penggunaan bahasa.

Perhatikan:

  • siapa pembaca;
  • tujuan teks;
  • situasi;
  • bidang pembahasan;
  • tingkat formalitas.

Bahasa dalam laporan ilmiah tentu berbeda dengan bahasa dalam percakapan sehari-hari.

  1. Pilihan kata

Kata harus sesuai dengan makna.

Contoh:
“Penelitian itu menunjukkan hasil yang signifikan.”

Dalam konteks ilmiah, “signifikan” memiliki makna khusus. Jangan menyamakannya begitu saja dengan “besar” atau “penting”.

  1. Kata baku dan tidak baku

Baku:

  • aktivitas
  • analisis
  • risiko
  • praktik
  • kualitas
  • sistem

Tidak baku:

  • aktifitas
  • analisa
  • resiko
  • praktek
  • kwalitas
  • sistim
  1. Kalimat efektif

Kalimat efektif harus:

  • memiliki kesatuan;
  • jelas;
  • logis;
  • hemat;
  • memiliki struktur yang tepat;
  • menggunakan bentuk yang sejajar jika diperlukan.

Contoh tidak efektif:
“Para siswa-siswa mengikuti kegiatan tersebut.”

Perbaikan:
“Para siswa mengikuti kegiatan tersebut.”

  1. Konjungsi

Pilih konjungsi sesuai hubungan makna.

Sebab:
karena, sebab

Akibat:
sehingga, akibatnya

Pertentangan:
tetapi, namun, akan tetapi

Penambahan:
dan, selain itu

Kesimpulan:
jadi, dengan demikian

  1. Ketepatan makna

Perhatikan perbedaan:

  • dapat dengan harus;
  • sebagian dengan semua;
  • mungkin dengan pasti;
  • sering dengan selalu.

Perubahan satu kata dapat mengubah tingkat kepastian suatu informasi.

J. KETEPATAN BAGIAN TEKS UNTUK MENGGAMBARKAN KARAKTER, PERISTIWA, ATAU LATAR

Kuis 10 menguji kemampuan menilai bagian teks yang tepat untuk menggambarkan karakter, peristiwa, atau latar dalam teks fiksi.

  1. Karakter

Karakter adalah sifat atau watak tokoh.

Karakter dapat ditunjukkan melalui:

  • tindakan;
  • ucapan;
  • pikiran;
  • reaksi;
  • kebiasaan;
  • cara tokoh menghadapi masalah.

Contoh:

“Ketika menemukan dompet di halaman sekolah, Raka menyerahkannya kepada guru.”

Bukti karakter:
jujur.

  1. Peristiwa

Peristiwa adalah kejadian yang berlangsung dalam cerita.

Untuk menilai ketepatan deskripsi peristiwa, perhatikan:

  • siapa;
  • apa;
  • kapan;
  • di mana;
  • bagaimana;
  • akibatnya.
  1. Latar

Latar terdiri atas:

  • tempat;
  • waktu;
  • suasana.

Contoh:

“Pada malam yang sunyi, Rani berjalan melewati lorong rumah sakit.”

Malam = waktu

Lorong rumah sakit = tempat

Sunyi = suasana

  1. Berhubungan belum tentu tepat

Kalimat:
“Raka mengenakan sepatu hitam.”

Kalimat tersebut berkaitan dengan Raka, tetapi tidak tepat untuk membuktikan bahwa Raka pemberani.

Kalimat:
“Raka tetap masuk ke gedung yang terbakar untuk menyelamatkan temannya.”

Kalimat tersebut lebih tepat untuk menunjukkan keberanian.

  1. Rumus

SIFAT → BUKTI PERILAKU/UCAPAN/PIKIRAN → KESIMPULAN

K. RESPONS EMOSIONAL TERHADAP PUISI, PROSA, DAN DRAMA

Kuis 11 menguji kemampuan menyimpulkan respons emosional terhadap unsur puisi, prosa, dan drama.

  1. Pengertian

Respons emosional adalah perasaan atau tanggapan emosional pembaca setelah memahami karya sastra.

Contoh:

  • sedih;
  • haru;
  • kagum;
  • takut;
  • tegang;
  • bahagia;
  • prihatin;
  • kecewa;
  • tersentuh;
  • lega.
  1. Respons emosional harus didukung teks

Jangan memilih jawaban hanya berdasarkan perasaan pribadi.

Teks:
“Setelah bertahun-tahun berpisah, seorang anak akhirnya bertemu kembali dengan ibunya.”

Respons:
haru dan bahagia.

  1. Respons terhadap puisi

Perhatikan:

  • diksi;
  • citraan;
  • majas;
  • tema;
  • suasana;
  • amanat.

Contoh:

“Rumah itu masih berdiri,
tetapi suara ibu telah lama pergi.”

Respons:
sedih atau haru.

  1. Respons terhadap prosa

Perhatikan:

  • tokoh;
  • konflik;
  • peristiwa;
  • penderitaan;
  • perjuangan;
  • kehilangan;
  • keberhasilan.
  1. Respons terhadap drama

Perhatikan:

  • dialog;
  • tindakan;
  • konflik;
  • hubungan antartokoh;
  • suasana.
  1. Jangan mencampurkan respons emosional dengan amanat

Respons:
“Pembaca merasa terharu.”

Amanat:
“Kita harus menghargai pengorbanan orang tua.”

Keduanya berbeda.


Latihan 

Posting Komentar

0 Komentar
Komentar

Tinggalkan pesan yang positif untuk membangun komunikasi yang sehat

Tinggalkan pesan yang positif untuk membangun komunikasi yang sehat

Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(360)

Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.Pelajari lagi
Terima!
To Top