wendycode

Materi TKA Bahasa Indonesia Lanjut SMA indikator "Menganalisis ketepatan penggunaan bahasa, misalnya afiks, frasa, klausa, kalimat pada teks"

0

 

MATERI TKA BAHASA INDONESIA TINGKAT LANJUT SMA

Menganalisis Ketepatan Penggunaan Bahasa dalam Teks

A. Pengertian

Menganalisis ketepatan penggunaan bahasa adalah kemampuan untuk menilai apakah unsur kebahasaan yang digunakan dalam sebuah teks sudah sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, struktur kalimat, makna, dan konteks penggunaannya.

Dalam TKA Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut, kemampuan ini tidak hanya berkaitan dengan menentukan kata yang benar atau salah. Peserta didik perlu mampu menjelaskan alasan ketepatan atau ketidaktepatan penggunaan unsur bahasa.

Unsur yang perlu dianalisis antara lain:

  1. Kata dan proses pembentukannya.
  2. Afiks atau imbuhan.
  3. Frasa.
  4. Klausa.
  5. Kalimat.
  6. Hubungan antarklausa.
  7. Keefektifan kalimat.
  8. Keparalelan atau kesejajaran bentuk.
  9. Ketepatan konjungsi.
  10. Ketepatan penggunaan kata dalam konteks.

1. AFIKS

A. Pengertian Afiks

Afiks adalah bentuk terikat yang ditambahkan pada kata dasar untuk membentuk kata baru atau mengubah fungsi dan makna kata.

Contoh:

“kuat” → “memperkuat”

“baca” → “membaca”

“tulis” → “menulis”

“guna” → “berguna”

Afiks dalam bahasa Indonesia dapat berupa prefiks, sufiks, infiks, dan konfiks.


B. Jenis-Jenis Afiks

1. Prefiks

Prefiks adalah imbuhan yang diletakkan di awal kata dasar.

Contoh:

me- + baca → membaca

ber- + jalan → berjalan

di- + tulis → ditulis

ter- + buka → terbuka

pe- + kerja → pekerja

Contoh dalam kalimat:

“Peserta didik membaca teks argumentasi.”

Kata “membaca” berasal dari:

me- + baca → membaca


2. Sufiks

Sufiks adalah imbuhan yang diletakkan di belakang kata dasar.

Contoh:

makan + -an → makanan

baca + -an → bacaan

guna + -kan → gunakan

tulis + -an → tulisan

Contoh:

“Perpustakaan menyediakan berbagai bacaan.”

Kata “bacaan” berasal dari:

baca + -an → bacaan


3. Infiks

Infiks adalah imbuhan yang disisipkan di tengah kata dasar.

Contoh:

guruh → gemuruh

tunjuk → telunjuk

gigi → gerigi

Infiks relatif lebih sedikit digunakan dalam pembentukan kata baru dalam bahasa Indonesia modern.


4. Konfiks

Konfiks adalah imbuhan yang terdiri atas dua bagian yang mengapit kata dasar.

Contoh:

ke- + sehat + -an → kesehatan

ke- + indah + -an → keindahan

per- + kata + -an → perkataan

pe- + bangun + -an → pembangunan

Contoh:

“Pembangunan infrastruktur harus memperhatikan lingkungan.”

Kata “pembangunan” berasal dari:

pe- + bangun + -an → pembangunan


2. AFIKSASI DAN PERUBAHAN MAKNA

Penggunaan imbuhan dapat mengubah makna dan fungsi kata.

Perhatikan:

“kuat” → “menguatkan” → membuat menjadi kuat

“kuat” → “memperkuat” → menjadikan lebih kuat

“guna” → “berguna” → memiliki kegunaan

“guna” → “menggunakan” → memakai

“ajar” → “belajar” → melakukan kegiatan belajar

“ajar” → “mengajar” → memberikan pelajaran

Dalam soal TKA, siswa dapat diminta menentukan alasan penggunaan suatu kata berimbuhan berdasarkan maknanya dalam kalimat.

Contoh:

“Pemerintah perlu memperkuat pengawasan terhadap penggunaan dana publik.”

Kata “memperkuat” bermakna “menjadikan lebih kuat”.

Jadi, penggunaannya sesuai dengan konteks karena pemerintah ingin meningkatkan kekuatan atau efektivitas pengawasan.


3. PELULUHAN HURUF DALAM AFIKSASI

Salah satu hal yang sering muncul dalam soal tingkat lanjut adalah perubahan bentuk kata ketika mendapat imbuhan.

Contoh:

me- + pengaruh → memengaruhi

me- + pakai → memakai

me- + sapu → menyapu

me- + tulis → menulis

me- + kirim → mengirim

Dalam bentuk baku, kata “pengaruh” menjadi “memengaruhi”, bukan “mempengaruhi”.

Contoh:

Salah:
“Teknologi mempengaruhi pola komunikasi masyarakat.”

Baku:
“Teknologi memengaruhi pola komunikasi masyarakat.”

Hal ini perlu diperhatikan karena soal TKA dapat menguji kemampuan peserta didik membedakan bentuk baku dan tidak baku berdasarkan proses pembentukan kata.


4. FRASA

A. Pengertian Frasa

Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang tidak memiliki hubungan subjek dan predikat.

Contoh:

“rumah besar”

“sangat cepat”

“para siswa”

“di sekolah”

“kualitas pendidikan”

“terhadap masyarakat”

Perhatikan:

“siswa rajin”

Jika “siswa” sebagai subjek dan “rajin” sebagai predikat, gabungan tersebut dapat menjadi klausa.

Namun:

“siswa yang rajin”

dapat menjadi bagian dari struktur yang lebih kompleks karena terdapat klausa relatif “yang rajin”.


5. Jenis-Jenis Frasa

A. Frasa Nominal

Frasa yang inti utamanya berupa nomina.

Contoh:

“kualitas pendidikan”

“masyarakat Indonesia”

“energi terbarukan”

“perubahan iklim”

“ketergantungan masyarakat”

Contoh:

“Pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan.”

Frasa “kualitas pendidikan” merupakan frasa nominal.


B. Frasa Verbal

Frasa yang inti utamanya berupa verba.

Contoh:

“sedang belajar”

“telah berkembang”

“akan meningkatkan”

“harus dilakukan”

Contoh:

“Pemerintah akan meningkatkan kualitas layanan publik.”

Frasa “akan meningkatkan” merupakan frasa verbal.


C. Frasa Adjektival

Frasa yang intinya berupa kata sifat.

Contoh:

“sangat penting”

“lebih efektif”

“cukup sulit”

“sangat kompleks”

Contoh:

“Masalah tersebut sangat kompleks.”

Frasa “sangat kompleks” merupakan frasa adjektival.


D. Frasa Preposisional

Frasa yang diawali kata depan.

Contoh:

“di sekolah”

“ke pasar”

“dari pemerintah”

“kepada masyarakat”

“terhadap lingkungan”

Contoh:

“Pemerintah memberikan bantuan kepada masyarakat.”

Frasa “kepada masyarakat” merupakan frasa preposisional.


6. MEMBEDAKAN FRASA DAN KLAUSA

Ini merupakan bagian penting dalam TKA.

Frasa tidak memiliki hubungan subjek-predikat.

Klausa memiliki hubungan subjek-predikat.

Contoh:

“rumah besar”

Tidak terdapat subjek dan predikat.

→ frasa.

“rumah itu besar”

“rumah itu” = subjek

“besar” = predikat

→ klausa.

Contoh lain:

“di sekolah”

→ frasa.

“siswa belajar”

“siswa” = subjek

“belajar” = predikat

→ klausa.

Cara mudah:

Jika terdapat pasangan S-P, kemungkinan besar bagian tersebut merupakan klausa.


7. KLAUSA

A. Pengertian Klausa

Klausa adalah satuan gramatikal yang sekurang-kurangnya memiliki subjek dan predikat serta berpotensi menjadi bagian dari kalimat.

Contoh:

“siswa membaca”

S = siswa

P = membaca

→ klausa.

“pemerintah meningkatkan anggaran”

S = pemerintah

P = meningkatkan

O = anggaran

→ klausa.


8. KLAUSA UTAMA DAN KLAUSA BAWAHAN

Kalimat kompleks dapat memiliki lebih dari satu klausa.

Contoh:

“Karena hujan turun deras, beberapa wilayah mengalami banjir.”

Klausa 1:

“hujan turun deras”

Klausa 2:

“beberapa wilayah mengalami banjir”

Klausa pertama merupakan klausa bawahan karena diawali “karena”.

Klausa kedua merupakan klausa utama.


9. HUBUNGAN ANTARKLAUSA

Kemampuan menentukan hubungan antarklausa sangat penting dalam TKA.

A. Sebab

Ditandai antara lain dengan:

karena

sebab

lantaran

Contoh:

“Karena curah hujan meningkat, beberapa wilayah mengalami banjir.”

Hubungan:

curah hujan meningkat → sebab

wilayah mengalami banjir → akibat


B. Akibat

Ditandai dengan:

sehingga

akibatnya

maka

Contoh:

“Hujan turun sepanjang malam sehingga beberapa wilayah mengalami banjir.”


C. Tujuan

Ditandai dengan:

agar

supaya

untuk

Contoh:

“Pemerintah memperbaiki jalan agar mobilitas masyarakat meningkat.”

Tujuan perbaikan jalan:

“mobilitas masyarakat meningkat.”


D. Pertentangan

Ditandai dengan:

tetapi

namun

sedangkan

walaupun

meskipun

Contoh:

“Teknologi berkembang pesat, tetapi sebagian masyarakat masih kesulitan memperoleh akses internet.”

Hubungannya adalah pertentangan.


E. Waktu

Ditandai dengan:

ketika

saat

sebelum

setelah

sesudah

sejak

Contoh:

“Ketika harga bahan pangan meningkat, daya beli masyarakat menurun.”


10. KLAUSA RELATIF

Klausa relatif biasanya ditandai dengan kata “yang”.

Contoh:

“Program yang dirancang pemerintah berhasil meningkatkan partisipasi masyarakat.”

Klausa:

“yang dirancang pemerintah”

Klausa tersebut menerangkan kata “program”.

Jadi:

program + yang dirancang pemerintah

Klausa tersebut berfungsi sebagai pewatas nomina.

Contoh lain:

“Buku yang dibeli siswa itu membahas perubahan iklim.”

“yang dibeli siswa” menerangkan “buku”.


11. KALIMAT

A. Pengertian Kalimat

Kalimat adalah satuan bahasa yang mengungkapkan pikiran secara utuh dan memiliki struktur gramatikal tertentu.

Contoh:

“Peserta didik membaca teks argumentasi.”

Struktur:

S = Peserta didik

P = membaca

O = teks argumentasi


12. UNSUR-UNSUR KALIMAT

A. Subjek

Subjek merupakan unsur yang menjadi pokok pembicaraan.

Contoh:

“Pemerintah meningkatkan anggaran pendidikan.”

Subjek:

“Pemerintah”


B. Predikat

Predikat menerangkan tindakan, keadaan, atau identitas subjek.

Contoh:

“Pemerintah meningkatkan anggaran pendidikan.”

Predikat:

“meningkatkan”


C. Objek

Objek biasanya mengikuti verba transitif.

Contoh:

“Pemerintah meningkatkan anggaran pendidikan.”

Objek:

“anggaran pendidikan”


D. Pelengkap

Pelengkap melengkapi makna predikat.

Contoh:

“Pemerintah memberikan bantuan kepada masyarakat.”

“bantuan” = objek

“kepada masyarakat” = pelengkap


E. Keterangan

Keterangan memberikan informasi tambahan seperti waktu, tempat, sebab, tujuan, atau cara.

Contoh:

“Pemerintah membangun sekolah di daerah terpencil.”

“di daerah terpencil” = keterangan tempat.


13. KALIMAT EFEKTIF

Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu menyampaikan gagasan secara tepat, jelas, logis, dan sesuai kaidah bahasa.

Ciri-cirinya antara lain:

  1. Memiliki struktur yang jelas.
  2. Tidak boros kata.
  3. Menggunakan kata secara tepat.
  4. Memiliki hubungan antargagasan yang logis.
  5. Menggunakan bentuk yang sejajar.
  6. Tidak menimbulkan ambiguitas yang tidak diperlukan.
  7. Menggunakan ejaan dan tanda baca secara tepat.

14. KESALAHAN PEMBOROSAN KATA

Perhatikan:

“Para siswa-siswa mengikuti kegiatan.”

Tidak efektif karena “para” dan pengulangan “siswa-siswa” sama-sama menunjukkan jamak.

Perbaikan:

“Para siswa mengikuti kegiatan.”

atau:

“Siswa-siswa mengikuti kegiatan.”

Tidak perlu menggunakan keduanya sekaligus.

Contoh lain:

“Berbagai upaya-upaya telah dilakukan.”

Tidak efektif.

Perbaikan:

“Berbagai upaya telah dilakukan.”


15. PENGGUNAAN KATA “BERBAGAI”

Kata “berbagai” sudah menunjukkan keberagaman atau jumlah lebih dari satu.

Salah:

“berbagai macam-macam upaya”

Lebih efektif:

“berbagai upaya”

atau:

“bermacam-macam upaya”

Contoh:

“Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah tersebut.”


16. KALIMAT TANPA SUBJEK YANG JELAS

Kesalahan ini sering ditemukan dalam teks ilmiah.

Contoh:

“Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa minat baca siswa meningkat.”

Kalimat tersebut tidak efektif.

Mengapa?

“Berdasarkan hasil penelitian” adalah keterangan, bukan subjek.

Sementara itu, predikatnya adalah “menunjukkan”.

Perbaikan:

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat baca siswa meningkat.”

Struktur:

S = hasil penelitian

P = menunjukkan

Pelengkap = bahwa minat baca siswa meningkat


17. KALIMAT DENGAN KONSTRUKSI “DALAM ... MENUNJUKKAN”

Contoh tidak efektif:

“Dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara menurun.”

Masalahnya sama, yaitu tidak ada subjek.

Perbaikan:

“Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara menurun.”

Atau:

“Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa kualitas udara menurun.”

Pada bentuk kedua, “ditemukan” dapat digunakan dalam konstruksi pasif sehingga struktur kalimat menjadi lebih tepat.


18. KESEJAJARAN BENTUK

Kesejajaran berarti unsur-unsur yang memiliki fungsi sama harus menggunakan bentuk gramatikal yang sepadan.

Contoh tepat:

“Peserta didik harus mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi informasi.”

Ketiga unsur:

mengidentifikasi

menganalisis

mengevaluasi

merupakan verba.

Contoh tidak tepat:

“Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi masalah, menganalisis penyebabnya, dan solusi yang dapat diterapkan.”

Bentuknya tidak sejajar:

mengidentifikasi = verba

menganalisis = verba

solusi = nomina

Perbaikan:

“Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi masalah, menganalisis penyebabnya, dan mencari solusi yang dapat diterapkan.”

Sekarang:

mengidentifikasi

menganalisis

mencari

Ketiganya berbentuk verba.


19. KETEPATAN KONJUNGSI

Konjungsi harus sesuai dengan hubungan makna yang ingin disampaikan.

Contoh:

“Karena hujan deras, jalan menjadi banjir.”

→ hubungan sebab-akibat.

“Jalan menjadi banjir sehingga lalu lintas terganggu.”

→ hubungan akibat.

“Pemerintah memperbaiki jalan agar lalu lintas menjadi lancar.”

→ hubungan tujuan.

“Teknologi berkembang pesat, tetapi akses internet belum merata.”

→ hubungan pertentangan.

“Ketika harga naik, daya beli masyarakat menurun.”

→ hubungan waktu.

Dalam TKA, jangan hanya menghafalkan konjungsi. Perhatikan hubungan logis antargagasan.


20. KLAUSA TUJUAN

Perhatikan:

“Sekolah menyediakan berbagai jenis bacaan untuk meningkatkan minat baca siswa.”

Klausa:

“untuk meningkatkan minat baca siswa”

menyatakan tujuan.

Pertanyaannya:

“Untuk apa sekolah menyediakan berbagai jenis bacaan?”

Jawaban:

“Untuk meningkatkan minat baca siswa.”


21. KLAUSA SEBAB

Contoh:

“Karena harga bahan pangan meningkat, daya beli masyarakat menurun.”

Pertanyaan:

“Mengapa daya beli masyarakat menurun?”

Jawaban:

“Karena harga bahan pangan meningkat.”


22. KLAUSA WAKTU

Contoh:

“Ketika harga bahan pangan meningkat, daya beli masyarakat menurun.”

Pertanyaan:

“Kapan daya beli masyarakat menurun?”

Jawaban:

“Ketika harga bahan pangan meningkat.”


23. KLAUSA KONSENSIF

Klausa konsesif menunjukkan keadaan yang bertentangan dengan hasil atau keadaan pada klausa utama.

Penandanya:

walaupun

meskipun

kendati

sekalipun

Contoh:

“Walaupun teknologi berkembang pesat, sebagian masyarakat masih mengalami kesulitan memperoleh akses internet.”

Maknanya:

teknologi berkembang pesat

tetapi

akses sebagian masyarakat masih terbatas.


24. FRASA PREPOSISIONAL

Frasa preposisional dimulai dengan kata depan.

Contoh:

di sekolah

ke pasar

dari pemerintah

kepada masyarakat

terhadap lingkungan

untuk siswa

Perhatikan:

“Pemerintah memberikan bantuan kepada masyarakat.”

“kepada masyarakat” adalah frasa preposisional.

Dalam analisis kalimat, frasa tersebut dapat berfungsi sebagai pelengkap atau keterangan bergantung pada konstruksi kalimatnya.


25. ANALISIS KETEPATAN PENGGUNAAN BAHASA DALAM TEKS

Dalam TKA, siswa dapat diberikan sebuah paragraf dan diminta menemukan penggunaan bahasa yang tidak tepat.

Contoh:

“Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial mempengaruhi pola komunikasi remaja. Para remaja-remaja menggunakan media sosial untuk berbagai macam tujuan.”

Ada beberapa masalah.

Pertama:

“Berdasarkan penelitian menunjukkan...”

Tidak memiliki subjek yang jelas.

Perbaikan:

“Hasil penelitian menunjukkan...”

Kedua:

“mempengaruhi”

Bentuk baku:

“memengaruhi”

Ketiga:

“Para remaja-remaja”

Penanda jamak berlebihan.

Perbaikan:

“Para remaja”

Keempat:

“berbagai macam tujuan”

Tidak selalu salah, tetapi dapat dibuat lebih ringkas menjadi:

“berbagai tujuan”.

Kalimat hasil perbaikan:

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial memengaruhi pola komunikasi remaja. Para remaja menggunakan media sosial untuk berbagai tujuan.”


26. STRATEGI MENGERJAKAN SOAL TKA

Ketika menemukan soal tentang afiks, frasa, klausa, atau kalimat, gunakan langkah berikut.

Pertama, baca kalimat secara utuh.

Jangan langsung terpaku pada kata yang ditanyakan. Konteks sangat menentukan ketepatan penggunaan bahasa.

Kedua, tentukan unsur yang sedang diuji.

Apakah soal membahas:

afiks?

frasa?

klausa?

kalimat?

konjungsi?

keefektifan?

Ketiga, periksa struktur.

Untuk klausa dan kalimat, tentukan:

S = subjek

P = predikat

O = objek

Pel = pelengkap

K = keterangan

Keempat, periksa hubungan makna.

Tanyakan:

Apakah hubungan antargagasan menunjukkan sebab?

akibat?

tujuan?

waktu?

pertentangan?

Kelima, periksa kehematan.

Cari:

pengulangan yang tidak perlu

kata yang mubazir

penanda jamak ganda

struktur yang berulang

Keenam, periksa kesejajaran.

Jika terdapat pola:

“mengidentifikasi, menganalisis, dan ...”

unsur ketiga sebaiknya memiliki bentuk yang sama.

Ketujuh, periksa kebakuan kata.

Perhatikan bentuk seperti:

memengaruhi

memperoleh

mengubah

menyukseskan

mempertanggungjawabkan

ditindaklanjuti

dan bentuk lain yang sering dipersoalkan.


27. RINGKASAN MATERI

UnsurPengertianContoh
AfiksImbuhan pada kata dasarmembaca
PrefiksImbuhan di awalmenulis
SufiksImbuhan di akhirtulisan
InfiksImbuhan di tengahgemuruh
KonfiksImbuhan yang mengapit kata dasarkesehatan
FrasaGabungan kata tanpa hubungan S-Prumah besar
KlausaSatuan yang memiliki S-Psiswa belajar
KalimatSatuan bahasa yang menyampaikan gagasan utuhSiswa membaca buku.
Konjungsi sebabMenyatakan sebabkarena
Konjungsi akibatMenyatakan akibatsehingga
Konjungsi tujuanMenyatakan tujuanagar, untuk
Konjungsi pertentanganMenyatakan pertentangantetapi, walaupun
Konjungsi waktuMenyatakan waktuketika, setelah
Kalimat efektifKalimat yang jelas, tepat, logis, dan hematPemerintah meningkatkan layanan publik.
KesejajaranKesamaan bentuk unsur yang sederajatmengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi

28. CONTOH ANALISIS LENGKAP

Perhatikan kalimat berikut:

“Pemerintah perlu meningkatkan kualitas transportasi umum agar masyarakat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.”

Analisis:

“Pemerintah” = subjek.

“perlu meningkatkan” = predikat.

“kualitas transportasi umum” = objek.

“agar masyarakat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi” = klausa tujuan.

Dalam klausa tujuan:

“masyarakat” = subjek.

“mengurangi” = predikat.

“penggunaan kendaraan pribadi” = objek.

Hubungan kedua klausa:

klausa utama → pemerintah meningkatkan kualitas transportasi umum.

klausa bawahan → masyarakat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Hubungan makna → tujuan.

Jadi, struktur kalimat tersebut efektif karena hubungan antargagasannya jelas.

29. CONTOH ANALISIS SOAL TKA

Kalimat:

“Penelitian itu bertujuan untuk mengidentifikasi masalah, menganalisis penyebabnya, dan solusi yang dapat diterapkan.”

Pertanyaan:

Bagian mana yang menyebabkan kalimat tersebut tidak efektif?

Analisis:

“mengidentifikasi” = verba

“menganalisis” = verba

“solusi” = nomina

Ketiganya berada dalam deretan yang memiliki fungsi sama, tetapi bentuknya tidak sejajar.

Perbaikan:

“Penelitian itu bertujuan untuk mengidentifikasi masalah, menganalisis penyebabnya, dan mencari solusi yang dapat diterapkan.”

Sekarang bentuknya:

mengidentifikasi = verba

menganalisis = verba

mencari = verba

Ketiganya sejajar.

30. KUNCI KONSEP YANG HARUS DIKUASAI SISWA

Untuk menguasai indikator TKA “Menganalisis ketepatan penggunaan bahasa”, siswa setidaknya harus mampu melakukan lima hal utama:

  1. Mengenali proses pembentukan kata melalui afiksasi.
  2. Membedakan frasa dengan klausa.
  3. Mengidentifikasi struktur kalimat berdasarkan S-P-O-Pel-K.
  4. Menentukan hubungan makna antarklausa berdasarkan konjungsi dan konteks.
  5. Menilai keefektifan kalimat berdasarkan kejelasan struktur, kehematan, kebakuan, ketepatan, dan kesejajaran.

Link Soal

Posting Komentar

0 Komentar
Komentar

Tinggalkan pesan yang positif untuk membangun komunikasi yang sehat

Tinggalkan pesan yang positif untuk membangun komunikasi yang sehat

Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(360)

Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.Pelajari lagi
Terima!
To Top